Tuesday, October 09, 2007

"Don't Judge A Book by It's Cover"

Aku yakin, banyak orang yang familiar dengan quote diatas. Pesan dari quote itu sangat jelas dan gamblang : janganlah kita menilai orang hanya dari penampilannya saja. Mudah diucapkan. Tapi ternyata, aku bukan termasuk orang yang mengamalkannya.

Siang itu sangat panas. Aku dan keluarga, dalam perjalanan menuju daerah pantai di Sidoarjo untuk memancing Bandeng. Di tengah perjalanan, aku teringat kalau harus mentransfer sejumlah uang ke seorang teman. Papaku segera berhenti ketika menemukan ATM Mandiri. Kulihat dari jauh, hanya ada 2 orang yang mengantri. Sedangkan di Mesin ATM sebelahnya, ATM BNI, kosong. Ah, cuma 2 orang. Tidak bakal lama. Begitu pikirku. Namun, setelah hampir 10 menit, orang di dalam ruangan ATM tidak keluar-keluar juga. Wah, ini sih sudah kelewatan. Masa ambil duit saja selama itu. Kami bertiga, mulai capek mengantri. Orang yang berada di antrian paling depan mengetuk pintu ATM. Seorang bapak berperawakan kecil, memakai celana pendek dan kaos oblong yang lusuh, serta kelihatan sangat ndeso, membuka pintu ATM dan meminta maaf. Dia berusaha menjelaskan kepada pengantri terdepan. Aku cuma menangkap kata "BNI", "sebelah", dan "tidak bisa". Melihat penampilan Bapak itu, dalam hati aku berpikir, Bapak ini gimana sih, ya jelas dia tidak bakal bisa mengambil duit dari ATM Mandiri memakai kartu BNI. Yah, maklumlah. Orang Desa tidak tahu bagaimana cara memakai kartu ATM.Beberapa saat kemudian si Bapak keluar dan antrian mulai berkurang.

Setelah selesai mentransfer dan kembali ke mobil, kedua orangtuaku yang menunggu tidak begitu jauh, langsung berkomentar : Kok lama sekali ?. Aku menjelaskan bahwa bapak tadi bikin lama. Mungkin karena tidak bisa memakai kartu ATM. Mamaku tersenyum dan menjelaskan bahwa Bapak yang kuanggap ndeso itu adalah salah satu rekan bisnis Papaku. Dia punya sejumlah rumah megah dan sejumlah bengkel besar. Kemungkinan, dia lama di ATM karena sedang melakukan transfer ke beberapa rekening, sehingga membutuhkan waktu yang agak lama. Gubrakkk !!!! Tuh.. kan... Don't judge a book by it's cover.

Well, lain kali aku berjanji akan lebih berhati-hati dalam menilai orang :)

Tuesday, September 25, 2007

Going Bukittinggi

Akhirnya, pada tanggal 15 Agustus 2007 aku berhasil menginjakkan kaki di Sumatra. Tepatnya di bandara Minangkabau, Padang. Horeee..... Yang bikin tambah seneng adalah karena aku tidak perlu mengeluarkan biaya. Kan, dibayarin kantor. He he he :)

Day 1 : 15 Agustus 2007

Jam menunjukkan pukul 10.30 ketika rombongan kami , yang terdiri dari 8 orang, sampai di Bandara Minangkabau yang bersih dan rapi. Tampak sekali kalau bandaranya baru selesai dibangun. Kayu dan besi masih tampak mengkilap dengan cat baru. Atap bandaranya unik, khas minang dengan ujung atap meruncing serupa tanduk kerbau. Di seberang bandara terlihat birunya Samudera Hindia. Dari bandara kami langsung melanjutkan perjalan menuju Bukittinggi dengan mobil kantor.

Sepanjang perjalanan hanya terlihat kehijauan hutan dan tanaman padi. Sesekali tampak padi yang sudah mulai menguning. Rumah-rumah yang terlihat sepanjang perjalanan pun tidak jauh berbeda dengan rumah-rumah penduduk di Jawa. Tadinya, aku pikir semua rumah di sana beratap tanduk kerbau. Ternyata hanya satu dua saja yang beratap seperti itu. Sisanya beratapkan seng.

Di tengah perjalan, kami mampir di rumah makan Datuk [semoga tidak salah sebut nama]. Padahal pinginnya makan di Uni Lis yang katanya "Mak Nyuss" (meminjam istilah Pak Bondan). Tapi berhubung perut sudah keroncongan minta diisi, kami akhirnya memilih rumah makan terdekat.
Makanan di RM Datuk lumayan enak. Teruma Dendeng Batokoknya. Hmmm... pedes, gurih, manis dalam kombinasi yang pas. Ditambah dengan nasi 'mawur' yang hangat. Di sini baru aku tahu kalau orang Padang lebih menyukai nasi yang 'mawur' atau tidak lengket. Sedangkan orang jawa lebih suka nasi pulen. Sehingga, kalau makan langsung dengan tangan, agak susah untuk mengambil nasinya. Nasinya lari kemana-mana.

Rombongan kami tiba di Hotel Novotel pukul 13.30. Beres-beres sebentar di kamar lalu ikut workshop sampai sore.

Sisa hari itu kami (aku, Dwi, Mbak Lily dan rombongan ibu-ibu gila belanja) habiskan di pasar Atas. Aku syok melihat keagresifan para ibu menawar harga dan lalu membeli berbagai macam mukena, jilbab, kain, dan baju koko. Mungkin, sekali belanja, duit 500 rb bisa mereka habiskan. Puas belanja (kecuali aku, Dwi dan Mbak Lily) kami makan durian. Baru di Bukittingi itulah, aku makan durian dicampur dengan ketan. Enak kok. Cuma, ketan agak menetralkan rasa durian yang kita makan. Aku juga baru tahu kalau untuk menghilangkan bau mulut setelah makan durian, cukup berkumur dengan air yang dituang ke atas lekukan kulit durian bagian dalam.

Puazz.

Day 2 : 16 Agustus 2007

Workshop seharian penuh. Sore harinya, aku, Dwi, dan Mbak Lily jalan kaki ke Jam Gadang, foto-foto disana dan membeli oleh2. Malam harinya kami habiskan di pinggir kolam renang sambil bercerita mengenai pekerjaan. Ternyata permasalahan yang kami hadapi mirip satu sama lain. Berasa senasib sepenanggungan.

Foto dengan Bu Yuni. Btw, pengambilan fotonya emang miring :)
Biar jam gadang dan orangnya sama-sama keliatan.


Day 3 : 17 Agustus 2007

Hari terakhir ini diisi dengan City Tour. Rombongan kami mengunjungi Ngarai Sianok, Gua Jepang dan Danau Maninjau. Well, bagi yang gampang mabok, mending jangan ke Danau Maninjau deh. Jalanan yang dilalui berkelok-kelok dan menurun tajam. Sepulang dari danau Maninjau, aku, Dwi dan Ibu Ninik memisahkan diri karena kami harus balik ke Jakarta sore itu juga. Sedangkan sisa rombongan meneruskan city tour ke Padang. Perjalanan menuju bandara Padang pun tak bisa dibilang mulus. Kami berpapasan dengan 3 karnaval 17 Agustus yang membuat jalanan macet. Tapi, untunglah, masih sempat Check in dan belum ditinggal pesawat. Fiuuuh....

Foto di depan rumah adat minang

Insyaallah.. kalau ada umur dan rejeki, Bukittinggi akan kusambangi lagi :)